Anies Baswedan “Membela” Perjuangan Kaum Petani Desa Wisata Candran

Tentu, menjadi sebuah kejutan yang tidak disangka-sangka seorang Anies Rasyid Baswedan berkunjung, dalam kesehajaannya, ke dusun terpencil Candran Kebonagung, Imogiri, Yogyakarta. Meski pula Anies Baswedan dikenal sebagai Gubernur terpilih DKI, tetapi warga dusun terpencil itu tahu secara persis seorang Anies Baswedan.

Bahkan Anies Baswedan sendiri, tidak menyangka akan sambutan warga dusun yang jaraknya 17 km dari titik nol Yogyakarta.”Saya sungguh tidak menyangka bahwa kedatangan saya akan disambut sebegini meriah. Dengan kerendahan hati, saya mengucapkan terimakasih,” katanya dalam sambutan setelah dia ‘terjun’ bermain lumpur di sawah menarik garu.

“Ketika duduk di atas garu tadi saya merenung,”lanjutnya.”Bahwa ratusan tahun silam kakek-kakek kita melakukan pekerjaan seperti ini. Dalam pariwisata sesungguhnya, ya seperti itu. Anak saya Mikael tadi naik garu dan memegang kerbau. Pengalaman ini akan dikenangnya seumur hidupnya, karena inilah pertama kalinya dia memegang kerbau!”

Foto Koran Yogya.

Anies Baswedan menaiki garu yang dihela kerbau di lautan lumpur (KY)

Anies Baswedan, seperti biasanya, mengutarakan semua pengalaman instannya dalam ujaran yang menarik dan menggugah. Dia membicarakan wisata desa di Candran Kebonagung Imogiri Yogyakarta, laiknya orang yang piawai dalam pariwisata budaya. Maka setiap kali memujikan hasil kerja dan perjuangan kaum petani Candran, yang dibumbuinya dengan ulasan kritis, selalu disambut tepuk tangan oleh penduduk.

Wisata desa model Candran dipujikannya karena dari wisata itu akan terjadi pengenalan pengalaman suatu kurun waktu tertentu. Model wisata ini, dengan sendirinya memiliki posisi penting bagi suatu generasi tertentu yang, karena suatu keharusan tidak tinggal di desa, maka anak-anak atau kaum muda yang datang ke Candran untuk mengalami sendiri kehidupan yang amat berbeda, yang dapat dipetik sebagai sebuah pengetahuan yang amat khas.

Foto Koran Yogya.

Kaki berlepo lumpur menjadi pengalaman asyik bagi Anies Baswedan dan Mikael, anak lekakinya (KY)

“Yang menarik lagi adalah adanya museum tani di Candran,”lanjutnya mengulas kehadiran museum yang menyimpan koleksi alat-alat pertanian di Jawa selama kurun tertentu.”Museum yang menyimpan benda-benda adalah suatu upaya mengumpulkan waktu menjadi sebuah tempat. Tadi saya lihat di museum ada palu buatan tahun 1953. Jika dihitung dalam waktu, maka palu itu sudah melakukan perjalanan waktu selama 64 tahun. Maka siapa pun yang masuk ke dalam museum itu seakan-akan berada di masa tahun 1953, di tahun 1920, dan sebagainya. Tadi ada anglo buatan tahun 1975, kalau anglo ini dibiarkan saja, dia akan hilang dalam waktu. Tetapi karena diletakkan di sana, dia menjadi sejarah, menjadi pengetahuan yang bergerak selama 42 tahu.”

Desa wisata Candran memang berbeda dari seluruh desa wisata di Yogyakarta. Desa ini memiliki museum peralatan tani untuk tujuan pendidikan generasi muda. Justru kehadiran museum inilah yang membuat Candran menjadi daya tarik banyak pengunjung domestik dan mancanegara. Dan mungkin hal itu pulalah yang mendorong Anies Baswedan, setelah sehari sebelumnya dia melakukan panen mina padi di daerah kabupaten Sleman, maka hari berikutnya di mengunjungi Candran yang khas. Setelah Candran, Anies akan menginap di Omah Tembi dan di sana akan bertemu dengan para pemikir dan penggiat desa dari seluruh Yogyakarta.

Foto Koran Yogya.

Tiba-tiba Anies Baswedan akrab dengan kerbau biasa menghela bajak dan garu (KY)

Orang yang mestinya sangat bangga dan berbahagia adalah Kristya Bintara, pemilik Museum Tani Jawa Indonesia sekaligus penggerak wisata desa Candran dan Kebonagung. “Ini suatu kunjungan istimewa buat warga Candran dan masyarakat wisata Bantul, karena kehadiran Pak Anies Baswedan merupakan pengakuan terhadap semua aktivitas dan usaha-usaha kami untuk memajukan pariwisata Indonesia.”

You may also like ...